Proses Pembuatan Biodiesel

Biodiesel terbuat dari minyak sayur, minyak goreng daur ulang, dan lemak berbagai hewan. Prosedur pembuatan biodiesel melibatkan proses kimia yang memisahkan gliserin dari lemak hewan atau dari berbagai minyak sayuran seperti kedelai dan jagung. Proses ini membutuhkan penggunaan Metanol atau Etanol, serta katalis seperti Natrium Hidroksida (NaOH).

Setelah gliserin berhasil dipisahkan, maka akan tertinggal substansi yang dikenal sebagai Metil Ester (nama kimia untuk Biodiesel), sementara gliserin sebagai produk sampingan digunakan dalam pembuatan sabun dan produk lainnya, disamping itu, katalis yang digunakan juga bisa digunakan kembali (didaur ulang).

Proses Pembuatan Solar

Solar merupakan sumber energi tak terbarukan dan merupakan bahan bakar utama kendaraan bermesin diesel, solar diperoleh dari minyak bumi setelah melalui proses pemisahan, konversi, dan pemurnian. Pada proses pemisahan, minyak mentah mengalami proses yang dikenal sebagai distilasi fraksional, setelah ini, senyawa yang berbeda dalam minyak mentah lantas dipisahkan satu sama lain tergantung pada titik didih masing-masing.

Senyawa yang memiliki titik didih tinggi berada dibagian bawah kolom, sementara senyawa dengan titik didih rendah tetap berada di atas, dengan cara ini, minyak mentah lantas disuling untuk menghasilkan berbagai produk seperti gas propana, bensin, solar, dan minyak pelumas.

Karena prosedur distilasi tidak menghasilkan cukup solar, proses konversi diperlukan untuk memecah fraksi minyak mentah yang lebih berat untuk menghasilkan lebih banyak solar, langkah terakhir adalah pemurnian, dimana kelebihan sulfur dalam solar dihilangkan dengan bantuan katalis dan hidrogen.

Perbandingan Antara Biodiesel dengan Solar

Biodiesel

  1. Pembakaran biodiesel 75% lebih bersih dari pada solar.
  1. Emisi Carbon Dioksida (CO2) biodiesel relatif rendah (sekitar 78% lebih rendah dari solar) sehingga tidak berkontribusi signifikan pada pemanasan global.
  1. Biodiesel memiliki sifat pelarut (pelumas) sehingga bisa turut membersihkan bagian-bagian mesin diesel dari berbagai kotoran. Jelaga pembakaran yang dihasilkan biodiesel juga lebih sedikit dibandingkan solar.
  1. Biodiesel membuat mesin lebih mudah distarter dan berjalan lebih mulus akibat angka cetane yang lebih tinggi.
  1. Biodiesel menghasilkan lebih sedikit jelaga, karbon monoksida, hidrokarbon tidak terbakar, serta sulfur dioksida.
  1. Bahan bakar ini tidak beracun dan bisa diuraikan oleh lingkungan.
  1. Biodiesel bisa digunakan untuk mengurangi efek tumpahan minyak bumi yang mencemari perairan.
  1. Mesin diesel lebih tua, terutama yang dibuat sebelum tahun 1992, mungkin mengalami masalah saat menggunakan biodiesel konsentrasi tinggi akibat tersumbatnya filter bahan bakar dan kerusakan komponen karet pada mesin.

Solar

  1. Solar termasuk bahan bakar fosil yang menyumbang polusi udara dan berbagai masalah kesehatan.
  1. Sebagai bahan bakar fosil, pembakaran solar melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer sehingga berkontribusi terhadap pemanasan global.
  1. Solar tidak memiliki sifat pelumasan pada mesin.
  1. Solar memiliki angka setana (cetane number) lebih rendah dibandingkan biodiesel sehingga kurang efisien.
  1. Solar dikenal melepaskan emisi sulfur tinggi yang sangat berbahaya bagi lingkungan.
  1. Dibandingkan biodiesel, solar lebih mudah diperoleh di hampir semua SPBU.
  1. Solar bisa digunakan untuk mesin diesel model apapun serta keluaran tahun berapapun.

Kesimpulannya, Biodiesel lebih efisien dan lebih aman untuk lingkungan sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *